9 Manfaat Lempuyang Berdasarkan Penelitian Ilmiah

Mungkin anda bertanya, apakah lempuyang itu? lempuyang merupakan tumbuhan yang tergolong anggota Zingiberaceae dan memiliki nama ilmiah Zingiber zerumbet (L.) Roscoe ex Sm. Manfaat lempuyang telah banyak digunakan sebagai obat-obatan, jamu herbal, maupun sebagai bahan dan bumbu penyedap masakan. Lempuyang merupakan tumbuhan asli kawasan asia tenggara dan juga India. Tanaman herbal ini kemudian menyebar bersama aktivitas migrasi manusia hingga ke polinesia dan hingga hampir di seluruh daerah tropis.

Lempuyang dibudidayakan atau tumbuh liar hampir di seluruh daerah tropik di permukaan bumi ini. Habitat lempuyang berkisar sampai pada ketinggian 1300 di atas permukaan laut dan tumbuh serta dirawat di lahan pertanian ataupun juga tumbuh secara liar.

Manfaat Lempuyang
Lempuyang | Foto: wikimedia.org

Hasil-hasil Penelitian tentang Manfaat Lempuyang

Dibawah ini adalah beberapa manfaat lempuyang dan efek farmakologi lempuyang berdasarkan penelitian-penelitian ilmiah yang telah dilakukan oleh para peneliti.

1. Manfaat Lempuyang sebagai Penahan Rasa Sakit (Antinociceptive Activity)

Lempuyang memiliki kemampun sabagai penahan rasa sakit (Antinociceptive). Somchit dkk. (2005) meneliti ekstrak air lempuyang dan ekstrak etanol lempuyang yang diberikan secara intraperitonial. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa ekstrak etanol lempuyang secara efektif mampu mengurangi writhing dengan pemberian dosis tertentu. Penelitian dengan menggunakan ekstrak metanol lempuyang (Zakaria dkk., 2010) dan minyak esensial rimpang lempuyang (Sulaiman dkk., 2010) menunjukkan aktivitas penahan rasa sakit (Antinociceptive) yang cukup signifikan pada level periferal dan sentral.

2. Manfaat Lempuyang sebagai Pencegah Peradangan (Anti-Inflammatory Activity)

Ekstrak air rimpang lempuyang  yang diberikan secara intraperitoneal menunjukkan aktifitas anti peradangan secara signifikan pada edema cakar yang diinduksi dengan prostaglandin-E2-(PGE2-), penggunaan ekstrak air rimpang lempuyang dosis 50 mg/kg dengan waktu 1 – 4 jam sedangkan pada dosis 100 mg/kg dengan waktu 0,5 – 4 jam (Somchit dan Nur Shukriyah, 2003).

Ekstrak metanol rimpang lempuyang 25-100 mg/kg yang diberikan secara subcutane menunjukkan aktivitas anti edema dan anti peradangan secara signifikan saat diujikan pada model inflamasi akut (tes edema jari cakar (paw) yang diinduksi oleh carrageenan) dan inflamasi kronis (tes granuloma yang diinduksi oleh cotton-pellet) (Zakaria dkk., 2010).

Penelitian lebih lanjut pada minyak esensial rimpang lempuyang yang diberikan secara intraperitoneal menunjukkan potensinya sebagai agen anti-inflamasi berdasarkan kemampuannya untuk mengurangi terjadinya inflamasi yang diinduksi dengan menggunakan dua metode yang sebelumnya telah disebutkan di kalimat sebelumnya (Zakaria dkk., 2011). Pada penelitian Zakaria dkk. (2011) tersebut juga menunjukkan bahwa minyak esensial rimpang lempuyang juga mencegah fase kedua dari tes sakit yang diinduksi oleh formalin.

3. Manfaat Lempuyang sebagai Pencegah Demam (Antipyretic Activity)

Pemberian ekstrak air rimpang lempuyang dan ekstrak etanol rimpang lempuyang  secara intraperitoneal dengan dosis 25, 50 dan 100 mg/kg menunjukkan kemampuannya dalam aktivitas sebagai pencegah demam (antipyretic) saat diuji selama 8 jam dengan menggunakan metode tes Brewer’s yeast-induced pyrexia (Somchit dkk., 2005).

Pada penelitian Somchit dkk. (2005) yang menggunakan tikus sebagai hewan uji coba tersebut mengungkap bahwa kedua jenis ekstrak memiliki efek pencegah demam yang bergantung pada dosis, ekstrak etanol rimpang lempuyang  secara signifikan mengurangi temperatur tikus pada dosis 50 dan 100 mg/kg, sedangkan ekstrak air rimpang lempuyang efektif pada semua dosis yang diujikan.

4. Manfaat Lempuyang sebagai Antialergi

Aktivitas antialergi juga dimiliki oleh ekstrak lempuyang. Penelitian Tewtrakul dan Subhadhirasakul (2007) menguji aktivitas antialergi secara in vitro pada ekstrak etanol rimpang lempuyang, ekstrak air rimpang lempuyang, dan minyak volatile rimpang lempuyang.

Ekstrak dan minyak lempuyang  pada konsentrasi 0 – 100 mg/mL diteliti kemampuannya untuk menghambat disekresikannya b-hexosaminidase oleh RBL-2H3 cell line. Secara umum jika dibandingkan dengan keluarga Zingiberaceae lainnya, rimpang lempuyang memiliki tingkat aktivitas antialergi pertengahan (moderate).

5. Manfaat Lempuyang sebagai Antioksidan

Telah banyak diketahui bahwa sayuran serta buah-buahan memiliki banyak kandungan antioksidan serta berbagai macam fitokemikalia lainnya terutama senyawa-senyawa polifenol. Konsumsi secara teratur buah-buahan dan sayuran memiliki hubungan erat dengan berkurangnya resiko penyakit jantung, stroke, tekanan darah tinggi, dan kanker.

Penelitian Lako dkk. (2007) menunjukkan bahwa rimpang lempuyang memiliki paling banyak kandungan kaempferol (240 mg/100g) dibanding spesies Zingiberaceae lainnya. Kaempferol merupakan golongan polifenol yang termasuk antioksidan dan telah banyak penelitian mengungkap manfaat kaempferol dalam mengurangi resiko penyakit kronis terutama kanker (Chen dan Chen, 2013).

6. Bermanfaat sebagai Antiamoebic (anti-amuba)

Lempuyang ternyata juga berkhasiat sebagai antiamoebic. Hal ini didasarkan pada penelitian Sawangjaroen dkk. (2006) yang menguji beberapa macam jenis tumbuhan yang berkhasiat obat termasuk lempuyang dalam potensi aktivitas antiamoebic. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa ekstrak klorofom rimpang lempuyang memiliki nilai IC50 sebesar 196,9. Nilai tersebut digolongkan sebagai “moderately active” atau memiliki nilai aktivitas antiamoebic yang pertengahan.

7. Bermanfaat sebagai Antibakteri

Penelitian Voravuthikunchai dkk. (2005) menunjukkan bahwa bakteri gram positif rentan terhadap ekstrak klorofom rimpang lempuyang. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa ekstrak kloroform rimpang lempuyang pada konsentrasi 250 mg/cakram menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dengan zona inhibisi 9,8 mm, terhadap Staphylococcus aureus yang resistan/tahan terhadap methicillin (methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA)) dengan zona inhibisi 9,5 mm, terhadap Streptococcus mutants dengan zona inhibisi 8,6 mm.

Penelitian lainnya terhadap ekstrak kloroform rimpang lempuyang yang dilakukan oleh Voravuthikunchai dkk. (2006) pada beberapa isolat klinik Staphylococcus aureus PSU037, PSU039, PSU040 dan PSU051 menunjukkan nilai minimum inhibitory concentration (MIC) secara berturut-turut 0,79, 0,79, 0,79, and 0,39 mg/mL dan nilai minimum bactericidal concentration MBC berturut-turut 12,50, 3,13, 6,25, and 12,50 mg/mL. Penelitian tersebut juga secara signifikan menunjukkan inhibisi pertumbuhan MRSA dan Bacillus Cereus dengan nilai MIC yang sama yaitu 0,39 mg/mL dan nilai MBC 3,13 dan 1,57 mg/mL.

8. Bermanfaat sebagai Antimycobacterial

Penelitian khasiat rimpang lempuyang terhadap Mycobacterium tuberculosis H37Ra dengan menggunakan Alamar blue assay telah dilakukan oleh Phongpaichit dkk. (2006). Penelitian tersebut menunjukkan bahwa ekstrak kloroform rimpang lempuyang dan ekstrak metanol rimpang lempuyang memiliki nilai MIC berturut-turut 125 mg/mL dan 1000 mg/mL.

9. Bermanfaat sebagai Pembasmi Larva (larvicidal)

Penelitian Tewtrakul dkk. (1998) menunjukkan bahwa ekstrak etanol rimpang lempuyang memiliki aktivitas pembasmi larva (larvicidal) dan pembasmi pupa (pupacidal) yang paling efektif dibandingkan dengan ekstrak rimpang lempuyang lainnya. Pada penelitian tersebut menunjukkan bahwa LD50 pada larvacidal sebesar 18,9 mg/mL dan pada pupacidal sebesar 97,4 mg/mL.

Penelitian mengenai manfaat lempuyang ini seperti halnya juga penelitian-penelitian pada tumbuhan yang berkhasiat obat lainnya yaitu untuk menyempurnakan kelengkapan data-data ilmiah maupun data klinis. Data-data tersebut berguna untuk secara lebih jauh mengetahui kemanjuran dan keamanan dalam penggunaan masing-masing tanaman yang berkhasiat obat. Secara umum terjadi semacam keacuhan dalam mengevaluasi tingkat keamanan dan toksisitas penggunaan bahan-bahan herbal karena dianggap alami sehingga pengkonsumsiannya dianggap aman.

Dengan penelitian secara mendalam mengenai manfaat, efek farmakologi, keamanan penggunaannya, tentunya akan semakin membuka pemahaman mengenai tumbuhan-tumbuhan yang berkhasiat obat. Secara turun temurun tradisi penggunaan tumbuhan berkhasiat obat ini telah banyak digunakan di masyarakat secara luas. Sehingga dengan penelitian mengenai tumbuhan-tumbuhan obat tersebut maka diharapkan akan mengangkat citra tumbuhan obat tersebut yang bisa jadi selama ini dipandang sebelah mata. Selain itu juga berfungsi memberikan arahan keamanan dalam penggunaan tumbuhan berkhasiat obat yang pada sisi tertentu telah banyak diperjual belikan dalam komunitas obat herbal.

Tulisan ini menyampaikan ulang dan meringkas secara umum makalah ilmiah review Yob dkk. (2011) yang diterbitkan di jurnal Evidence-Based Complementary and Alternative Medicine.

Leave a Comment