Mengenal Aspergillus Flavus Di Bidang Kesehatan

Pada artikel kali penulis ini akan membahas mengenai jamur Aspergillus flavus ditinjau dari aspek di bidang kesehatan. Aspergillus flavus memiliki persebaran yang cukup luas di seluruh lingkungan. Jamur ini secara umum banyak ditemukan pada tanah, air, debu, dan konsentrasi terbesar ditemukan terutama pada benda yang telah terkontaminasi seperti kacang tanah, jagung, biji-bijian dan benda-benda organik yang membusuk (Yu dkk., 2005).

Aspergillus flavus adalah jamur atau fungi yang termasuk dalam filum ascomycota dan famili Trichomaceae. Klasifikasi ilmiah Aspergillus flavus secara lengkap adalah sebagai berikut.

Kingdom: Fungi, divisi: Ascomycota, kelas: Eurotiomycetes, Ordo: Eurotiales, famili: Trichocomaceae, genus: Aspergillus, spesies: Aspergillus flavus.

Pada kondisi in vitroAspergillus flavus tumbuh dengan baik pada Sabouraud dextrose agar atau Czapek Dox dan malt extract pada suhu 37°C serta perkecambahan konidia muncul sekitar 24 jam (Krishnan dkk., 2009).

Secara medis Aspergillus flavus merugikan dalam hal beberapa ancaman yang perlu diwaspadai. Yaitu carcinogen (sifat kemampuan menyebabkan kanker (karsinogen) yang dimiliki oleh aflatoksin), aflatoxicosis, dan aspergillosis.

Jamur Aspergillus Flavus | Sumber: creative-biolabs.com

Aspergillus flavus merugikan dalam hal sebagai penghasil zat carcinogen (zat penyebab terjadinya kanker)

Aspergillus flavus menyebabkan penyakit kanker karena Aspergillus flavus memproduksi aflatoksin (aflatoxin). Paparan jangka panjang aflatoxin B1 yang dihasilkan oleh Aspergillus flavus menyebabkan terjadinya kanker. Aflatoxin B1 merupakan hepatocarcinogen yang menyebabkan terjadinya tumor terutama di liver. Selain itu juga menyebabkan tumor pada ginjal, paru-paru, serta colon pada hewan dan manusia (Amaike dan Keller, 2011). Timbulnya kanker pada liver yang juga disebut hepatocellular carcinoma (HCC) diasosiasikan dengan konsumsi aflatoxin B1 di negara-negara Asia dan Afrika.

Liu dan Wu (2010) menunjukkan bahwa 4,6% – 28,2% (sekitar 25.000 – 155.000 kasus) keseluruhan hepatocellular carcinoma di dunia ini diasosiasikan dengan paparan aflatoksin. Terutama terjadi di negara-negara berkembang yang mana masing-masing individunya juga mengidap inveksi virus hepatitis B. Kajian-kajian yang dilakukan oleh Cardwell dan Henry (2004), Liu dan Wu (2010), Wang dan Tang (2005), serta Wild dan Montesano (2009) menunjukkan bahwa paparan aflatoksin, virus hepatitis B, dan inveksi virus hepatitis C, kesemuanya itu berinteraksi secara sinergis meningkatkan  perkembangan kanker pada liver (hepatocellular carcinoma).

Kanker pada liver yang disebabkan oleh aflatoksin melibatkan protein p53 yang merupakan protein pencegah terjadinya tumor. Aflatoksin B1 epoxides dan AFB1-exo-epoxides saling intercalate diantara basa-basa DNA dan bergabung pada kodon 249 di gen protein p53. Hal ini menghasilkan suatu mutasi AGG menjadi AGT (R249S) dan ini sering ditemui pada pasien kanker pada liver (hepatocellular carcinoma) (Ozturk, 1991). Adanya mutasi ini dianggap sebagai suatu penanda adanya paparan aflatoksin dan terdapat pada 75% kanker pada liver (hepatocellular carcinoma) pada negara-negara berkembang (developing countries) seperti di Afrika Timur. Namun hal ini muncul hanya 3% pada negara-negara maju (developed countries) (Gouas dkk., 2009).

Aspergillus flavus sebagai penyebab Aflatoxicosis

Jamur ini menghasilkan racun yang disebut aflatoksin (aflatoxin). Pada beberapa kasus, aflatoksin menyebabkan permasalahan gangguan kesehatan pada hewan-hewan dan juga pada manusia yang disebut dengan aflatoxicosisAspergillus flavus menyebabkan penyakit aflatoksikosis. Aflatoksin pertama dikenal pada saat penyelidikan penyakit Turkey X di Inggris pada sekitar tahun 60an awal. Penyakit Turkey X yang terjadi di Inggris. Pada saat itu terjadi karena ribuan hewan ternak unggas mati setelah mengkonsumsi kacang-kacang yang terkontaminasi aflatoksin (Sergeant dkk., 1961).

Aflatoxicosis terjadi karena menghirup atau menelan makanan yang mengandung aflatoksin dalam kadar cukup tinggi. Aflatoxicosis perlu menjadi perhatian di negara Asia dan Afrika. Aflatoksin yang dihasilkan oleh Aspergillus flavus juga diketahui telah memakan korban jiwa. Misalnya adalah kasus wabah keracunan aflatoksin yang terjadi di Kenya pada tahun 2004 (CDC (Centers for Disease Control and Prevention), 2004). Per 20 Juli 2004 telah dilaporkan terjadinya 125 kematian dari total 317 kasus (CDC, 2004). Kasus aflatoxicosis juga dilaporkan terjadi di Malaysia (Chao dkk., 1991) dan di India (Krishnamachari dkk., 1975).

Merupakan penyebab penyakit Aspergillosis

Aspergillosis merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh tumbuhnya koloni Aspergillus pada jaringan tertentu di tubuh manusia maupun hewan. Aspergillus flavus merupakan satu dari sekitar 20 spesies aspergillus lain sebagai penyebab penyakit pada manusia (Krishnan dkk., 2009). Aspergillus flavus merupakan nomor kedua paling banyak setelah Aspergillus fumigatus sebagai patogen penyebab aspergillosis invasif maupun aspergillosis non invasif (Krishnan dkk., 2009). Aspergillosis invasif ini morbiditas dan mortalitasnya terutama terjadi secara signifikan pada pasien yang mengalami immunosuppresi. Yaitu pada pasien dengan perlakuan tertentu yang menyebabkan sistem imunnya tidak berfungsi secara normal. Sehingga pasien tidak mampu mengatasi serangan patogen yang menyerang tubuh manusia.

Pasien immunocompromised mengalami suatu kondisi tubuh yang tidak memiliki kemampuan merespon secara normal terhadap suatu infeksi. Hal ini dikarenakan sistem imun mengalami gangguan (impaired) atau sistem imun yang dilemahkan (weakened). Kondisi sistem imun yang sengaja dilemahkan misalnya adalah pada pasien cangkok organ. Tujuannya untuk mengurangi terjadinya penolakan tubuh pada organ baru yang dicangkokkan padanya.

Aspergillus flavus  memiliki kemampuan bertahan hidup pada suhu tinggi dan merupakan patogen yang paling banyak menyerang pada kondisi kering. Terutama pada daerah Asia Tenggara, Afrika, dan Timur Tengah. Aspergillus flavus bertanggungjawab atas terjadinya 50 – 80% kasus keratitis, sinusitis, dan infeksi kulit pada manusia (Krishnan dkk., 2009).

Cara patogen ini masuk ke dalam sistem tubuh manusia terutama melalui menghirup konidia Aspergillus. Cara pengendalian terjadinya infeksi Aspergillus pada pasien dengan kondisi immunocompromised adalah dengan pemasangan filter HEPA (High Efficiency Particulate Air). Filter tersebut dipasang pada unit Laminar Air Flow pada ruangan tempat pasien tersebut dirawat. Dengan adanya sistem penyaringan udara seperti itu telah terbukti mampu menekan terjadinya wabah infeksi aspergillosis (Hahn dkk., 2002; Price dkk., 2003).

Penutup

Demikianlah telah dibahas tentang Aspergillus flavus ditinjau dari sisi medis oleh idesehat.com. Semoga uraian di atas mampu memberikan wawasan kepada kita semua terhadap ancaman Aspergillus flavus terhadap kesehatan. Semoga kita semua selalu diberi kebahagiaan dan kesehatan untuk mengarungi kehidupan ini.

Leave a Comment