Sejarah Jarum Suntik: Suntikan Pertama Dalam Catatan Sejarah

Artikel sejarah jarum suntik ini akan mengulas konsep dasar pembuatan jarum suntik, suntikan intravena pertama kali hingga munculnya jarum suntik modern.

Jarum suntik merupakan peralatan medis yang digunakan untuk mentransfer cairan kedalam atau keluar tubuh.

Jarum ini terbuat dari stainlessteel yang pada bagian tengahnya berlobang sebagai saluran cairan dari tabung suntik.

Sejarah Jarum Suntik
Jarum Suntik | Source: bellebrocante.typepad.com

Konsep Dasar Dalam Catatan Sejarah Jarum Suntik

Menurut catatan, konsep jarum suntik berasal dari alat prasejarah. Seperti pipa tiup, panah berujung racun, dan senjata lain yang digunakan untuk mengirimkan racun ke dalam tubuh seseorang.

Dan catatan tentang penggunaan jarum suntik versi awal berasal dari peradaban Yunani Kuno. Dimana pada masa itu jarum suntik hanya dapat memasukkan cairan ke dalam lubang tubuh yang ada.

Jadi pada versi awal ini jarum suntik tidak menembus kulit seperti jarum suntik yang saat ini digunakan sebagai alat medis.

Sementara itu di Mesir, ahli bedah menemukan jenis jarum suntik yang disebut clyster. Jarum suntik ini hanya dapat memberikan enema atau memberikan isap untuk mengeluarkan lendir hidung.

Konsep ini terus bertahan dan tidak mengalami banyak perubahan selama beberapa ratus tahun.

Catatan Penggunaan Suntikan Pertama pada Tahun 1656

Berdasarkan informasi yang penulis kutip dari laman aplususapharma.com, Christopher Wren dikreditkan sebagai orang pertama yang melakukan suntikan intravena.

Suntikan intravena pertama oleh Christopher Wren tersebut dilakukan pada tahun 1656. Christopher Wren menggunakan jarum suntik yang terbuat dari kandung kemih hewan dan bulu angsa.

Bulu angsa dipasang pada kandung kemih hewan untuk menyuntikkan anggur dan opium ke dalam pembuluh darah anjing.

Perlu diketahui, proses penyuntikan tersebut terlebih dahulu membutuhkan sayatan di kulit agar bisa mengakses vena.

Injeksi Intravena Perdana Pada Manusia

Selang 6 tahun tahun kemudian yakni pada tahun 1662, Johann D. Major yang merupakan lulusan Universitas Padua Jerman mencatatkan sejarah baru.

Ia merupakan orang pertama yang melakukan injeksi intravena pada manusia. Meskipun eksperimen berakhir karena hasil yang buruk, namun ia terus membuat kemajuan.

Selanjutnya Regnier de Graaf mengembangkan jarum suntik logam pada abad ke-17. Ia menciptakan jarum suntik yang sudah menyerupai jarum suntik modern.

Jarum suntik karia Regnier de Graaf langsung dipasang ke botol logam dan dirancang hanya untuk melacak pembuluh darah di mayat manusia.

Eksperimen penggunaan jarum suntik pada masa itu selalu berakhir dengan tidak baik dan sering mengakibatkan kematian. Kemudian tidak dieksplorasi lagi selama 200 tahun.

Kembali Dihidupkan pada 1800-an

Pada awal tahun 1800-an, ide untuk melakukan pengobatan melalui kulit kembali dihidupkan. Dimana pada masa itu proses pengobatan melalui kulit dilakukan dengan menghilangkan lapisan kulit luar.

Francis Rynd menemukan jarum berlubang dan menggunakannya untuk membuat suntikan subkutan pertama yang tercatat pada tahun 1844.

Kemudian pada tahun 1853, Charles Pravaz dan Alexander Wood mengembangkannya dengan menciptakan jarum yang cukup halus untuk menembus kulit.

Alexander Wood melakukan eksperimen dengan morfin yang disuntikkan untuk mengobati kondisi saraf.

Namun sayangnya ia dan istrinya menjadi kecanduan morfin. Istrinya juga tercatat sebagai wanita pertama yang meninggal karena overdosis obat suntik.

Pada tahun 1899 Letitia Mumford Geer diberikan paten untuk desain jarum suntik buatannya. Jarum suntik buatannya memungkinkan pengguna untuk menggunakannya hanya dengan satu tangan.

Pada tahun 1949, Charles Rothauser menciptakan jarum suntik sekali pakai plastik pertama di dunia. Dimana jarum suntik buatannya terbuat dari polietilen di pabriknya di Adelaide.

Kemudian pada tahun 1956 seorang apoteker dan penemu Selandia Baru, Colin Murdoch diberikan hak paten untuk jarum suntik plastik sekali pakai.

Minat terhadap jarum suntik sekali pakai meningkat seiring dengan meningkatnya ketakutan akan penularan penyakit.

Pada tahun 1974 penemu Afrika-Amerika, Phil Brooks menerima hak paten AS untuk “Jarum Suntik Sekali Pakai”.

Hingga saat ini konsep tentang jarum suntik tidak berubah namun metodenya terus berkembang. Dimana pada saat ini penggunaan jarum suntik modern jauh lebih aman dan nyaris tanpa rasa sakit.


Artikel ini dibuat berdasarkan sumber referensi berikut:

Sumber foto:

Leave a Comment